Sabtu, 07 Juli 2012

Bahasa Arab dan Bahasa Al-Quran

BAHASA ARAB DAN BAHASA AL-QUR`AN

  • Berbagai kajian tentang bahasa Arab yang telah dilakukan oleh para pakar bahasa Arab selalu terkait dengan kitab suci Al-Qur`an,
  • seolah Al-Qur`an menjadi pusat perhatian dari kajian tersebut, baik kajian itu terkait langsung dengan penafsiran Al-Qur`an, penjelasan ayat-ayatnya, penjelasan maknanya, pengambilan hukum syari’ah, pembahasan makna kata, derivasi bentuk-bentuk kata, struktur sintaksis, silistika dan retorika, kaligrafi, astronomi, matematika, dan rahasia alam semesta.
  • Semua kajian tentang bahasa Arab ditujukan untuk mengkaji agama Islam, untuk memahami Al-Qur`an, sumber hukum Islam, dan undang-undang kaum Muslimin.
  • Di awal perkembangan Islam, agama Islam memiliki kaitan erat dengan bahasa Arab
  • motivasi yang mendorong para pakar bahasa Arab untuk mengumpulkan data-data bahasa Arab dan merumuskan tata bahasa Arab adalah motivasi keagamaan, yaitu menentukan titik dan baris Al-Qur`an dan mengajarkan bahasa Al-Qur`an kepada putera-puteri kaum Muslimin.
  • kurikulum pendidikan di dunia Islam sejak awal perkembangan Islam selalu mencakup pengetahuan agama dan bahasa Arab.
  • seorang ahli bahasa Arab biasanya sekaligus merangkap sebagai ahli agama atau ahli qira’at, ahli tafsir, ahli hadits, ahli teologi, atau ahli fiqih.
  • Noldeke:  “bahasa Arab dapat menjadi bahasa internasional karena Al-Qur`an dan Islam.
  • Karena dibawah kepemimpinan suku Quraisy, orang-orang Badwi dapat menaklukan penduduk padang pasir, sehingga bahasa Arab juga menjadi bahasa suci”.
  • Para ilmuan bekerja keras mengkaji bahasa Arab untuk mengungkap rahasianya agar dapat mengetahui kemu’jizatan Al-Qur`an.
  • Al-Qur`an diturunkan dengan bahasa fushah, bahasa yang diluar kemampuan masyarakat Arab awam.
  • pada masa awal perkembangan Islam masyarakat bertanya kepada para sahabat terkemuka tentang tafsir ayat Al-Qur`an dan kata-kata asing dalam Al-Qur`an.
  • Abdullah bin Abbas pernah ditanyakan tentang kata-kata tertentu di dalam Al-Qur`an maka dia menjelaskannya dengan bait-bait puisi Arab.
  • Berbagai pertanyaan dan jawaban yang terjadi antara masyarakat dan Abdullah bin Abbas dikumpulkan menjadi satu buku yang diberi judul: "سؤالات نافع بن الأزرق إلى عبد الله بن عباس"   (Pertanyaan-pertanyaan Nafi’ Ibn Al-Azraq kepada Abdullah Ibn Abbas). diterbitkan oleh Dr. Ibrahim al-Samarra`i di Bagdad pada tahun 1968.
  • Buku"سؤالات نافع بن الأزرق إلى عبد الله بن عباس"   dimulai dengan uraian berikut: “Pada saat Abdullah bin Abbas duduk di halaman Ka’bah dengan menjulurkan kakinya ke arah sumur zam-zam orang-orang mengelilinginya dari berbgai arah. Mereka bertanya kepada Abdullah tentang penafsiran Al-Qur`an dan halal-haram. Ketika dia sibuk menjawab pertanyaan orang, Nafi’ ibn al-Azra’ mengatakan kepada Najdah ibn Uwayn: “Mari kita datangi orang yang berani menafsirkan al-Qur`an dan memberikan fatwa tentang hal-hal yang tidak diketahuinya!”. Lalu mereka berdua menemui Abdullah ibn Abbas dengan mengatakan: “Kami ingin bertanya kepada anda tentang kitab suci al-Qur`an. Anda jelaskan kepada kami dengan merujuk pada puisi-puisi Arab, karena Allah menurunkan al-Qur`an dengan bahasa Arab!”. Abdullah ibn Abbas mengatakan: “Silahkan anda tanyakan tentang apa saja insya Allah saya akan menjawabnya.” Lalu mereka mengatakan: “Apa makna kataعِزِيْن dalam firman Allah ((عن اليمين وعن الشمال عزين. Abdullah Ibn Abbas menjawab: Kata عزين bermakna (berkelompok-kelompok).  Nafi’ ibn al-Azra’ dan Najdah ibn Uwayn mengatakan: “Apakah orang arab mengenal kata itu?” Ibnu Abbas mengatakan: “Ya. Dalam puisi karya Al-Abrash terdapat kata itu.”
فجاؤوا يهرعون إليه حتى  #  يكونوا حول منبره عزينا
Nafi’ mengatakan: “Tolong jelaskan tentang kata: وابتغوا إليه الوسيلة . Ibnu Abbas mengatakan: الوسيلة  bermakna الحاجة (keperluan).  Nafi’ mengatakan: “Apakah kata itu dipakai orang Arab?” Jawab Ibnu Abbas: “Ya, Antarah Al-Abasi pernah mengungkapkan kata itu dalam puisinya.”إن الرجال لهم إليكِ وسيلة  #  إن يأخذوكِ تكحلي وتخضبي .
·         Demikianlah Nafi’ tanya jawab itu terus berlangsung antara Nafi’ dan Ibnu Abbas, seingga akhirnya tanya jawab itu berkembang menjadi sekitar dua ratus lima puluh tempat dalam Al-Qur’an. Ibnu Abbas selalu memberi penjelasan dengan mengutip puisi-puisi Arab. 
·         Akhirnya penafsiran Ibnu Abbas itu kemudian dianggap sebagai cikal bakal dari perkamusan Arab.  Dan kajian bahasa Arab dimulai dari sini, dari makna kosa kata asing dalam Al-Qur’an.  Oleh karena itu kamus pertama dalam sejarah perkamusan Arab berjudul (غريب القرآن/Kosa Kata Aneg dalam Al-Qur’an ) karya Abu Sa’d Ibn Ribah Al-Bakri (W. 141 H.).
·         Sejak masa awal perkembangan Islam hinga waktu kini para ilmuan menyadari pentingnya puisi arab untuk membantu mengetahui makna-makna kata asing dalam Al-Qur`an dan hadits Nabi. Mereka gigih mengkaji  transmisi puisi, menghafalkannya,  mengkaji silistika puisi dan maknanya, serta peperangan-peperangan yang terjadi di tengah-tengah bangsa Arab. Kalau yang mereka lakukan ini bukan karena motivasi keagamaan, tentu saja puisi arab jahiliyah musnah, dan kita tidak tau apa-apa tentang puisi itu.
·         Abu Hatim ar-Razi: “Kalau orang tidak perlu mengetahui bahasa Arab dan menggunakan puisi arab untuk mengetahui kosa kata asing dalam Al-Qur`an dan hadits tentu saja puisi menjadi tidak berguna dan para penyair Arab pun tidak dikenang orang.       
·         Ibn Abbas: “Puisi Arab jahiliyah adalah rujukan orang Arab. Jika ada satu kata di dalam Al-Qur`an yang tidak jelas maknanya, maka   kita merujuk kepada puisi sehingga kita mengetahui maknanya.”
·         Ibn Abbas menambahkan “ Jika anda menanyakan kepadaku tentang kata asing dalam Al-Qur`an, carilah makna kata itu dalam puisi karena puisi adalah rujuka orang Arab.
·         di antara motivasi untuk mengkaji puisi adalah untuk mengkaji Al-Qur`an. Hal ini juga yang menjadi motivasi penyusunan  kamus-kamus Arab.
·         penyusunan nahwu dilatarbelakangi oleh semangat untuk menjaga Al-Qur`an dari kesalahan bacaan. Hal ini dapat diketahui pada latarbelakang penyusunan nahwu yang dilakukan oleh Abu al-Aswad ad-Du`ali
·         kajian gaya bahasa  yang kemudian dikenal dengan ilmu balaghah terbagi menjadi Bayan, Ma’ani, dan Badi’.
·         Orang yang pertama kali menemukan ilmu Balaghah Abu Ubaidah Muammar ibn Mutsanna yang tujuannya adalah untuk mengetahui gaya bahasa Al-Qur`an.
·         Adapun penulisan huruf Arab tentu saja telah dimulai jauh lebih dulu dari pada turunnya Al-Qur`an. Namun perhatian terhadap Al-Qur`an agar terhindar dari kesalahan bacaan membuat para ulama di awal perkembangan Islam mencari metode yang dapat menyelamatkan pembaca Al-Qur`an dari kesalahan bacaan karena huruf-huruf Al-Qur`an pada masa itu belum memiliki tanda titik dan syakl. Sejarah membuktikan bahwa Abul Aswad ad-Du’ali adalah orang pertama yang menentukan titik dan harakat huruf-huruf Al-Qur`an.
·         Semua pengetahuan ini ditujukan untuk mengkaji agama Islam dan memahami Al-Qur`an. Jika Al-Qur`an memeruntahkan shalat, puasa, dan haji. Semua ibadah ini dilakukan pada waktu tertentu sesuai dengan perjalanan bulan dan berbicara bulan berarti berbicara dengan astronomi, maka astronomi pun dipelajari untuk mengetahui waktu-waktu ibadah tadi. Jika pembagian warisan menuntut penguasaan matematika, maka matematika itu dipelajari oleh kaum Muslimin untuk keperluan ini.
·         Demikian pula Al-Qur`an menganjurkan untuk mengamati alam semesta agar aqidah mereka menjadi semakin kokoh dan kuat, maka mempelajari ilmu alam juga menjadi suatu keharusan untuk mengkaji Al-Qur`an.
·         Demikianlah Al-Qur`an menjadi pusat dari semua kajian bahasa Arab yang dilakukan untuk mengkaji Al-Qur`an. Tanpa Al-Qur`an bahasa Arab fushah akan punah, akan menjadi bahasa pusaka seperti bahasa latin dan sansekerta.




Sumber: www.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar